BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Jumat, 24 September 2010

Cerpen: Mutiara Yang Hilang

Pagi yang cerah, namun, pemuda itu belum juga mau membuka matanya, dirinya masih terbaring di bangsal salah satu rumah sakit di Jakarta. Selang infuse masih menancap di pergelangan tangannya yang masih saja belum bergerak, padahal telah seminggu lamanya dia terbaring tanpa membuka matanya.Para kerabat silih berganti menjaga lelaki ini berharap agar pemuda yang masih terbaring itu membuka matanya, atau paling tidak menggerakkan jemarinya agar mereka tidak terlalu mencemaskan keadaannya. Di ruang yang serba putih itu,mereka terus menunggu, harapan besar agar pemuda itu sadar kembali selalu terbersit dalam hati mereka. Namun, harapan yang mereka idamkan belum memberikan hasil, meskipun setiap hari perawat memeriksa keadaannya, belum tampak adanya kemajuan dari kondisi lelaki itu. Dalam rasa cemas dan saling berharap, muncul seorang wanita dengan pakaian yang tampak anggun memberikan salam dengan suara yang sangat merdu membuyarkan lamunan mereka.
"Assalamualaikum.." sapa gadis itu. "Bagaimana keadaan Mas Huda sekarang, apakah telah mengalami perubahan?" lanjutnya bertanya tentang keadaan lelaki itu, sembari berjalan mendekati bangsal dan kemudian menyalami orang tua dari pemuda itu dan meletakkan bungkusan yang semenjak tadi dipegangnya.
"Waalaikumsalam warohmatullah wabarokatuh.." balas semua yang hadir di kamar tersebut. "Kondisinya masih sama seperti kemarin, belum nampak adanya perubahan yang berarti nak, bisa kamu lihat sendiri, dia masih saja memejamkan matanya,entah untuk berapa lama lagi" kalimat itu meluncur dengan nada getir dari mulut si ibu.
Wanita cantik itupun hanya dapat memandangi wajah pemuda yang di cintainya, tak terasa air matanya turun meleleh melewati pipinya. Rizki Fajriyah nama gadis itu, dia tak kuasa untuk menahan emosi untuk dapat tegar menghadapi kenyataan tersebut, masih terekam dengan jelas dalam memori otaknya.Tubuh lelaki itu terpental setelah sebelumnya tertabrak oleh mobil Avanza yang melintas hendak menabrak dirinya, yang kemudian Huda mendorongnya untuk menghindar, sehingga pemuda itu yang menjadi korban. Pikirannya terbang melayang mengingat kejadian tersebut dimana dia bersama Huda tengah duduk di pinggir taman.
****
"Rizki, apakah boleh aku meminta sesuatu darimu, sesuatu yang mungkin akan lebih membuatku sayang padamu?" Tanya Huda lembut.
"Memangnya apa yang Mas Huda inginkan dariku? Sepertinya hal ini sangat penting, hingga Mas terlihat serius sekali. Katakan saja, tidak perlu sungkan dengan adik" balasnya.
"Begini, mungkin hal ini agak terlalu di paksakan, namun kuharap kamu mau melakukannya. Ku ingin agar kamu menggunakan jilbab, bisakah kamu mengabulkan keinginanku ini. Karena selama ini aku belum pernah melihatmu menggunakan kerudung, kali ini ku mohon kamu mau menggunakannya" ucap Huda berharap sembari mengeluarkan bungkusan yang telah di bawanya dari rumah. "Ini, kuberikan kerudung ini untukmu, ku harap kamu mau menggunakannya meski entah kapan. Karena ku ingin melihat calon pendamping hidupku nanti menjadi seorang akhwat yang solekhah, ku harap kamu mau menerimanya dan memakainya." Lanjutnya.
Dengan ragu Rizki menerima bungkusan pemberian Huda, sejenak dibukanya bungkusan tersebut yang ternyata berisi kain kerudung berwarna biru laut. Dalam hatinya sebenarnya dia merasa enggan untuk menerimanya, karena memang selama ini dirinya paling malas menggunakan penutup kepala tersebut, dia lebih merasa nyaman dengan tanpa menggunakan kerudung. Karena menurutnya dengan menggunakan kerudung tersebut pesona kecantikannya akan hilang, namun hal tersebut di pendamnya dalam hati.
"Bukannya aku ingin memaksamu mengenakan kerudung itu, kuhanya ingin melihatmu tampak lebih anggun. Rizki, kamu merupakan calon istriku,apakah salah bila aku ingin melihat calon istriku mengenakan kerudung ini."
"Tidak, tidak salah bila Mas Huda memintaku untuk mengenakan kerudung ini, tapi tolong, berikan aku waktu untuk berpikir agar dapat mengamini apa yang Mas Huda minta."
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan aku tidak akan memaksamu karena itu merupakan hak mu. Tapi, ku harap kau benar-benar menggunakannya" sejenak kedua insan itu terdiam. Lalu, rizki kembali berbicara untuk memecah kesunyian itu.
"Apakah hanya ini yang ingin mas sampaikan kepada saya? Jika memang iya, saya ingin berpamitan untuk pulang, karena hari sudah larut.." terdengar nada ucapannya agak menyesal.
"Apakah perlu Mas antar?" Huda mencoba menawarkan diri.
" Tidak, terima kasih, Mas Huda tidak perlu mengantar saya,saya bisa pulang sendiri, lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh."
"Ya sudah kalau itu mau adik, mas ucapkan hati-hati dijalan.."
"Baiklah, kalau begitu saya pamit mas.. Assalamualaikum.."ucap Rizki berpamitan.
"Waalaikumsalam.." balas Huda singkat sembari memandangi gadis tersebut berlalu dari hadapannya. Hudapun akhirnya memutuskan untuk mengikuti gadis itu dari belakang, berusaha agar Rizki tidak mengetahuinya.
Seok langkah gadis itu terdengar lambat, benar saja Rizki berjalan dengan ritme yang lambat. Dirinya masih memikirkan apa yang telah diungkapkan oleh calon suaminya, bahwa ingin melihat dirinya mengenakan kerudung itu. Dirinya berjalan sembari melamun, tak di sadarinya sebuah mobil Avanza melintas tepat dari sampingnya ketika dia sedang menyeberang. Huda yang sedari tadi mengawasinya dari belakang mencoba untuk mengejar gadis itu, dan...
"Braakkk....!" Terdengar suara mobil tersebut menabrak dirinya, Huda.
"Tidaaakkk...!! Mas Huda..!" teriak Rizki histeris melihat Huda tergeletak bersimbah darah, setelah sebelumnya berhasil mendorong tubuhnya menjauh.
Sopir dalam mobil itu akhirnya turun setelah sebelumnya merasa syok telah menabrak lelaki yang saat ini tergeletak di depan mobilnya.
"Maafkan saya nona, saya yang salah tidak memperhatikan jalan.." ucap sopir itu panik.
"Sudah, jangan di permasalahkan, sekarang cepat tolong dia,tolong bawa dia ke rumah sakit sekarang.." ucap Rizki dengan nada cepat.
Si sopirpun cepat tanggap,segera di bawanya Huda masuk ke dalam mobilnya, sementara itu Rizki sembari menangis serta bibir yang bergetar mencoba untuk menghubungi keluarganya melalui telephone. Setelah mengucapkan salam dan menutup pembicaraan Rizki bergegas menyusul masuk ke dalam mobil, dan mobil itupun bergerak dengan kecepatan yang cukup tinggi membelah malam...
***
Sesampai di rumah sakit Huda langsung di sambut para perawat dan kemudian di bawa keruang perawatan, Rizki sendiri menunggu di luar. Setelah keluarganya datang, dirinya menceritakan semua yang telah terjadi kepada keluarganya dan juga keluarga Huda. Mengenai pertemuannya tadi, permintaan Huda, hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi, setelah menceritakan itu semua Rizki kemudian di perintahkan untuk pulang oleh keluarga Huda, karena hari telah larut. Bersama dengan keluarganya, Rizkipun pamit. Tinggal di rumah sakit keluarga Huda menungguinya, sampai akhirnya dokter keluar dan menyarankan agar Huda dirawat inap saja, yang akhirnya sampai saat ini. Tiba-tiba Rizki tersadar dari lamunannya ketika sayup-sayup terdengar suara memanggilnya. Ibu Huda-pun akhirnya turut menyadari dan langsung memanggilnya.
"Huda..! Huda anakku, kamu telah sadar nak!" ucap ibunya tidak percaya, harapan akan kesembuhan anaknya kembali terpancar.
"Rizki.." ucapnya lirih. Mendengar namanya di sebut Rizkipun mendekat.
"Mas Huda, ini Rizki mas, Rizki ada di sini" ucapnya dengan nada bergetar.
Perlahan mata Huda sedikit terbuka, dilihatnya sosok gadis impiannya telah mengenakan kerudung, kerudung pemberiannya. Melihat hal itu,Huda pun sedikit menyunggingkan senyumnya. Namun, senyuman itu, hanya sekejap saja, karena setelah itu senyum itu hilang, membeku, tak bergerak, tak ada lagi tanda kehidupan yang di tampakkan oleh Huda. Melihat hal tersebut, Rizki merasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, Huda calon suaminya telah meninggalkannya sendiri dan rasa penyesalannya semakin besar karena Huda hanya dapat melihatnya menggunakan kerudung itu hanya untuk yang pertama dan terakhir kali dalam hidupnya. Suara tangispun pecah dan terdengar dari kamar yangserba putih itu. Ada rasa sesal dari gadis itu, kenapa di saat dirinya ingin menunjukkan bahwa dirinya telah menjalani apa yang menjadi permintaan Huda calon suaminya, secepat itu pula Huda meninggalkannya. Karena baginya Huda adalah mutiara, mutiara terbaiknya yang kini telah tiada.

0 komentar: